Berbicara tentang seorang cendekiawan yang satu ini, memang cukup unik
dan mengagumkan. Sebenarnya, dialah yang patut dikatakan sebagai pendiri
ilmu sosial. Ia lahir dan wafat di saat bulan suci Ramadan. Nama
lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin
Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan
Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H, bertepatan
dengan tanggal 27 Mei 1332 M. Nama kecilnya adalah Abdurrahman,
sedangkan Abu Zaid adalah nama panggilan keluarga, karena dihubungkan
dengan anaknya yang sulung. Waliuddin adalah kehormatan dan kebesaran
yang dianugerahkan oleh Raja Mesir sewaktu ia diangkat menjadi Ketua
Pengadilan di Mesir.
Pemikirannya dalam bidang pendidikan bermula dari presentasi
ensiklopedia ilmu pengetahuannya. Hal ini merupakan jalan untuk membuka
teori tentang pengetahuan dan presentasi umum mengenai sejarah sosial
dan epitomologi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.Menurut Ibnu
Khaldun, ilmu pengetahuan mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi dua
macam, yakni; pengetahuan rasional dan pengetahuan tradisional.
Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh dari kebaikan
yang berasal dari pemikiran yang alami. Sedangkan pengetahuan
tradisional merupakan pengetahuan yang subjeknya, metodenya, dan
hasilnya, serta perkembangan sejarahnya dibangun oleh kekuasaan atau
seseorang yang berkuasa.
B. Konsep atau tujuan pendidikan
Pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan nilai-nilai
yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat memepertahankan eksistensi
manusia dalam peradaban masyarakat.
Pendidikan adalah upaya melestarikan
dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat agar masyarakat
tersebut bisa tetap eksis.Pemikiran Ibnu Khaldun dalam hal pendidikan ia
tuangkan dalam karya monumentalnya yang dikenal dengan sebutan
Muqaddimah. Sebagai seorang filsuf muslim pemikirannya memanglah sangat
rasional dan berpegang teguh pada logika. Corak ini menjadi pijakan
dasar baginya dalam membangun konsep-konsep pendidikan. Menurutnya
paling tidak ada tiga tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan Islam,
yaitu peningkatan kecerdasan dan kemampuan berpikir, peningkatan segi
kemasyarakatan manusia, peningkatan segi kerohanian manusia. Sehingga
diharapkan pendidikan Islam mampu menciptakan manusia yang siap
menghadapi berbagai fenomena social yang ada disekitarnya.
C. Kurikulum dan Materi Pendidikan
Pengertian kurikulum pada masa Ibnu Khaldun masih terbatas pada
maklumat-maklumat dan pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau
sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk
kitab-kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap
tahap pendidikan. Sedangkan pengertian kurikulum modern, telah mencakup
konsep yang lebih luas yang di dalamnya mencakup empat unsur pokok
yaitu: Tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengetahuan-pengetahuan,
maklumat-maklumat, data kegiatan-kegiatan, pengalaman-pengalaman dari
mana terbentuknya kurikulum itu, metode pengajaran serta bimbingan
kepada murid, ditambah metode penilaian yang dipergunakan untuk mengukur
kurikulum dan hasil proses pendidikan.
Dalam pembahasannya mengenai
kurikulum Ibnu Khaldun mencoba membandingkan kurikulum-kurikulum yang
berlaku pada masanya, yaitu kurikulum pada tingkat rendah yang terjadi
di negara-negara Islam bagian Barat dan Timur. Kurikulum pendidikan yang
diajarkan kepada peserta didik dalam pemikiran Ibnu Khaldun meliputi
tiga hal, yaitu:
Pertama, kurikulum sebagai alat bantu pemahaman (ilmu
bahasa, ilmu nahwu, balagah dan syair).
Kedua, kurikulum sekunder yaitu
matakuliah untuk mendukung memahami Islam (seperti logika, fisika,
metafisika, dan matematika).
Ketiga, kurikulum primer yaitu inti ajaran
Islam (ilmu Fiqh, Hadist, Tafsir, dan sebagainya).Adapun pandangannya
mengenai materi pendidikan, karena materi adalah merupakan salah satu
komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Ibnu Khaldun telah
mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada
waktu itu menjadi dua macam yaitu:
1. Ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah)
Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam
hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan
cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas
syari’at yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits. Adapun yang termasuk ke
dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat,
ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab,
ilmu tasawuf, dan ilmu ta’bir mimpi.
2.Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah)
Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui
kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat
di dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di
dunia. Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi
menjadi empat macam ilmu yaitu: a. Ilmu logika, b. Ilmu fisika, c. Ilmu
metafisika dan d. Ilmu matematika.
Walaupun Ibnu Khaldun banyak
membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah dan sosiologi, namun ia
tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam klasifikasi ilmunya.Ibnu
Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didik menjadi
empat macam, yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan
dan prioritas mempelajarinya. Empat macam pembagian itu adalah:
1. Ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari tafsir, hadits, fiqh dan ilmu kalam.
2. Ilmu ‘aqliyah, yang terdiri dari ilmu kalam, (fisika), dan ilmu Ketuhanan (metafisika)
3. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syari’at), yang
terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang
membantu mempelajari agama.
4. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika.
D. Metode Pendidikan
Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran merupakan bagian dari
pembahasan pada buku Muqaddimahnya. Sebagaimana kita ketahui dalam
sejarah pendidikan Islam dapat kita simak bahwa dalam berbagai kondisi
dan situasi yang berbeda, telah diterapkan metode pengajaran. Dan metode
yang dipergunakan bukan hanya metode mengajar bagi pendidik, melainkan
juga metode belajar yang harus digunakan oleh anak didik. Hal ini
sebagaimana telah dibahas Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimahnya. Didalam
memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan
problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan
memperhatikan
pertama kemampuan akal anak didik.
Kedua:Setelah pendidik
memberikan problem-problem yang umum dari pengetahuan tadi baru pendidik
membahasnya secara lebih detail dan terperinci.
Ketiga:Pada langkah
ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara
lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan
bagaimapaun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna.
Demikian itu metode umum yang ditawarkan Ibnu Khaldun di dalam proses
belajar mengajar.
Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan
metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan
mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai
kebebasan berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini
dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Lain halnya
dengan metode hafalan, yang menurutnya metode ini membuat anak didik
kurang mendapatkan pemahaman yang benar.
Disamping metode yang sudah
disebut di atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena
dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi
pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik. Satu hal yang
menunjukkan kematangan berfikir Ibnu Khaldun, adalah prinsipnya bahwa
belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman,
pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Karena menurutnya belajar dengan
berdiskusi akan menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan
masalah dan pandai menghargai pendapat orang lain, disamping dengan
berdiskusi anak akan benar-benar mengerti dan paham terhadap apa yang
dipelajarinya.
E. Pendidik
Pendidik dalam pandangan Ibnu Khaldun haruslah orang yang berpengetahuan
luas, dan mempunyai kepribadian yang baik. Karena pendidik selain
sebagai pengajar di dalam kelas, pendidik juga harus bisa menjadi contoh
atau suri tauladan bagi peserta didiknya.
Ibnu Kholdun menganjurkan
agar para guru bersikap dan berperilaku penuh kasih sayang kepada
peserta didiknya, mengajar mereka dengan sikap lembut dan saling
pengertian, tidak menerapkan perilaku keras dan kasar, sebab sikap
demikian dapat membahayakan peserta didik, bahkan dapat merusak mental
mereka, peserta didik bisa menjadi berlaku bohong, malas dan bicara
kotor, serta berpura-pura, karena didorong rasa takut dimarahi guru atau
takut dipukuli.
Dalam hal ini, keteladanan guru yang merupakan
keniscayaan dalam pendidikan, sebab para peserta didik menurut Ibnu
Kholdun lebih mudah dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan
serta nilai-nilai luhur yang mereka saksikan, dari pada yang dapat
dipengaruhi oleh nasehat, pengajaran atau perintah-perintah.
F. Peserta didik
Sedangkan konsepnya mengenai peserta didik, bahwa peserta didik
merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki potensi. Maka dari itu
peserta didik membutuhkan bimbingan orang dewasa untuk mengembangkan
potensi ke arah yang lebih baik dengan potensi dan fitrah yang telah
ada. Peserta didik ibarat wadah yang siap untuk di beri pengetahuan yang
baru.
Refrensi
Baali, Fuad dan Ali Wardi.
Ibnu Khaldun dan Pola Pemikiran Islam. alih bahasa Osman Ralibi. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1989.
Thoha,Nashruddin.
Tokoh-tokoh Pendidikan Islam di Jaman Jaya. Jakarta: Mutiara. 1979.
http : // Wikipedia.co.id/ibnu khaldun
http://oggisobimedia.blogspot.com/2010/01/pemikiran-ibnu-khaldun-mengenai.html